RIAU | Tran7riau.com
Presiden Mahasiswa BEM ITB Indragiri, Adam Maulana, memberikan tanggapan atas kebijakan Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, terkait perpindahan dana pemerintah dari Bank Indonesia ke Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) sebesar 200T. Menurutnya, langkah ini memiliki potensi untuk mendukung perputaran ekonomi, namun juga menyimpan risiko yang harus diantisipasi.
“Kebijakan ini bisa menjadi peluang besar untuk mendorong Roda Ekonomi Indonesia. Tetapi, di sisi lain, ini juga bisa menjadi pisau bermata dua jika tidak diawasi dengan ketat.” ujar Adam.
Adam menegaskan, salah satu risiko utama yang patut diwaspadai adalah potensi terjadinya inflasi. Dengan meningkatnya peredaran dana, ada kemungkinan terjadi lonjakan penyaluran kredit tanpa diimbangi kapasitas produksi yang memadai.
“Seperti yang kita pelajarin, jika uang beredar lebih cepat dibanding kemampuan produksi barang dan jasa, maka harga-harga akan naik, dan masyarakat yang paling merasakan dampaknya,” jelasnya.
Ia menambahkan, tantangan ekonomi Indonesia cukup besar. Bahkan jika kita kilas balik selama dua periode pemerintahan Presiden Joko Widodo, target pertumbuhan ekonomi 6% sangat sulit untuk digapai. Karena itu, setiap kebijakan strategis di sektor keuangan harus benar-benar diarahkan pada kepentingan rakyat secara luas.
“Sebagai Agent of Control, kami menekankan pentingnya transparansi, akuntabilitas, dan evaluasi berkala atas semua ini. Jangan sampai langkah yang niatnya mendorong ekonomi justru menambah masalah baru di kemudian hari,” jelasnya.
Sebagai Penutup, Adam Maulana berharap kebijakan ini dapat benar-benar memberi manfaat nyata pada sektor yang produktif seperti memperkuat sektor UMKM, mendukung petani dan nelayan, serta meningkatkan daya beli masyarakat.
“Indonesia membutuhkan kebijakan ekonomi yang berpihak pada rakyat kecil. Maka dari itu, mari kita awasi bersama-sama agar perpindahan dana ini benar-benar menjadi jalan keluar, bukan jalan buntu ataupun masalah baru,” tutup Adam.
Budi Irianto






