Pesan Sejuk Kiyai Muji Malik RHA di Bulan Rajab: Fokus Bersihkan Hati, Berhenti Menilai Sesama

INHU-RIAU | Tran7riau.com

Memasuki bulan Rajab yang dikenal sebagai bulan penuh berkah dan ampunan (maghfirah), ulama sekaligus tokoh tasawuf Kiyai Muji Malik RHA mengajak seluruh umat Muslim untuk melakukan refleksi mendalam (muhasabah diri). Beliau menekankan pentingnya menjaga kesucian hati dibandingkan sibuk menilai kekurangan orang lain.

Dalam pesan hikmahnya, Kiyai Muji Malik menyampaikan bahwa bulan Rajab adalah momentum emas yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Menurut beliau, kemuliaan sejati seorang hamba tidak terletak pada pandangan manusia, melainkan pada ketulusan hatinya di hadapan Allah SWT.

“Tak perlu kita menilai orang lain baik dan tidaknya, karena kemuliaan di hadapan Allah hanya hati yang menentukan semuanya,” tutur Kiyai Muji Malik RHA dalam pesan taklimnya.

Pembersihan Hati sebagai Kunci Lebih lanjut, beliau mengajak masyarakat untuk mulai meninggalkan segala penyakit hati dan hal-hal yang tidak disukai oleh Allah SWT. Proses pembersihan hati ini, menurutnya, dapat dilakukan dengan memperkuat amalan harian yang konsisten.

Ada tiga pilar utama yang disarankan oleh Kiyai Muji Malik untuk mengisi hari-hari di bulan Rajab ini:

Memperbanyak Istighfar: Sebagai sarana memohon ampunan atas kekhilafan masa lalu.

Meningkatkan Sholawat: Sebagai bentuk kecintaan kepada Rasulullah SAW dan penenang jiwa.

Dzikir kepada Allah: Untuk menjaga hati agar tetap terhubung dengan Sang Khalik di setiap waktu.

Harapan untuk Kemuliaan Akhirat Menutup pesannya, Kiyai Muji Malik mendoakan agar umat Muslim yang bersungguh-sungguh memperbaiki diri di bulan mulia ini senantiasa mendapatkan perlindungan dan diangkat derajatnya.

“Mari bersihkan hati kita. Semoga kita termasuk hamba-Nya yang diberikan kemuliaan di akhirat nanti. Amin ya rabbal alamin,” pungkasnya.

Pesan ini pun ramai diperbincangkan di media sosial dengan tagar #TasawufDanHikmah, mengingatkan kembali pentingnya aspek spiritualitas di tengah hiruk-pikuk dunia modern.

A – B

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *