Perjalanan Seorang Wartawan Menemukan Tarekat Naqsyabandiyah Al-Kholidiyah Jalaliyah

PEKANBARU  | Tran7riau.com

Ada perjalanan hidup yang tidak selalu lurus. Ada masa ketika seseorang tumbuh dalam lingkungan agama, kemudian menjauh, sebelum akhirnya kembali menemukan jalan yang pernah ditanamkan oleh kedua orang tuanya sejak kecil.

Demikianlah perjalanan hidup Syekh Muda Salamudin Silaen, yang memiliki nama lengkap Zuhdi Anshari. Lahir di Kisaran, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara, ia tumbuh dalam keluarga yang mengenalkan nilai-nilai agama sejak usia dini. Kedua orang tuanya, Muhammad Hatta Silaen dan JN Boru Panjaitan, menjadi sosok penting yang menanamkan dasar-dasar keagamaan dalam kehidupannya.

Sejak kecil, ia telah diperkenalkan dengan Al-Qur’an, pengajian, dan pendidikan agama. Bahkan, ketika usianya masih sekitar empat tahun, ia pernah dibawa oleh ayahnya ke persulukan Syekh Abdul Wahab Rokan di Babussalam, Langkat.

Tempat yang dikenal sebagai salah satu pusat Tarekat Naqsyabandiyah di Sumatera Utara itu kemudian menjadi bagian dari kenangan masa kecil yang memiliki makna tersendiri dalam perjalanan spiritualnya.

Barangkali, pada usia yang masih sangat muda, ia belum memahami arti perjalanan tersebut. Namun, benih-benih kecintaan terhadap agama telah ditanamkan dalam dirinya. Benih itu kelak tumbuh kembali setelah melewati perjalanan hidup yang panjang.

Menuntut Ilmu dan Merantau

Masa remaja Syekh Muda Salamudin Silaen diwarnai dengan perjalanan menuntut ilmu. Ia pernah belajar di Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar dan Pondok Modern Darussalam Gontor, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur.

Namun, perjalanan pendidikan di Gontor tidak sempat diselesaikannya. Ia kemudian kembali ke kampung halaman di Kisaran dan melanjutkan pendidikan di Al Jam’iyatul Washliyah Pangkal Titi, Kisaran.

Setelah dewasa, perjalanan hidup membawanya merantau ke Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau. Di daerah inilah ia kemudian membangun kehidupan bersama keluarga.

Pada tahun 2003, ia menikah dengan Rahmiza binti Abu Hasan, putri seorang ulama Melayu di Kabupaten Indragiri Hulu. Pernikahan tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan kehidupannya di tanah rantau.

Namun, perjalanan hidup manusia tidak selalu berjalan sesuai dengan harapan. Ada masa-masa ketika seseorang menghadapi ujian, terseret dalam lingkungan yang kurang baik, dan mengalami pergulatan panjang dalam mencari makna kehidupan.

Ketika Kehidupan Membawa pada Titik Balik

Dalam perjalanan hidupnya, Syekh Muda Salamudin Silaen pernah mengalami masa yang ia kenang sebagai bagian dari perjalanan kelam. Ia sempat berkecimpung dalam lingkungan dunia hitam dan merasakan kehidupan yang jauh dari nilai-nilai agama yang pernah diajarkan kedua orang tuanya.

Namun, di tengah perjalanan tersebut, masih ada sesuatu yang tersimpan dalam lubuk hatinya: kerinduan kepada kehidupan agama.

Kenangan masa kecil tidak pernah benar-benar hilang.

Kenangan tentang kedua orang tua.

Tentang mengaji.

Tentang Al-Qur’an.

Tentang pesantren.

Dan tentang nilai-nilai agama yang dahulu pernah begitu dekat dengannya.

Pada suatu masa, ketika kehidupannya sedang berada dalam fase tersebut, ia mengalami sebuah pengalaman batin yang kemudian menjadi titik balik dalam perjalanan hidupnya.

Ia bermimpi bertemu dengan Almarhum Ayahnya.

Dalam mimpi tersebut, ia seolah mendengar sebuah teguran yang sederhana, tetapi begitu dalam maknanya:

“Bukan begini ajaran kami.”

Kalimat itu menggugah kesadarannya.

Ia mulai merenungkan kembali kehidupan yang sedang dijalaninya. Pesan tersebut seakan mengingatkannya kepada ajaran dan nilai-nilai yang dahulu ditanamkan kedua orang tuanya sejak kecil.

Dari situlah muncul kerinduan yang semakin kuat untuk kembali mendekat kepada agama.

Ia kemudian berusaha meninggalkan kehidupan masa lalu dan mulai mencari guru yang dapat membimbingnya.

Mencari Guru, Menemukan Jalan Pulang

Pencarian itu tidak berlangsung singkat.

Ia sempat melakukan perjalanan ke berbagai daerah, termasuk ke Pulau Jawa. Ia berusaha mencari seorang guru yang dapat membimbingnya dalam perjalanan spiritual dan mengantarkannya kembali kepada kehidupan agama yang pernah dikenalnya sejak kecil.

Namun, jalan yang dicarinya ternyata berada tidak jauh dari tempat ia membangun kehidupan bersama keluarganya.

Di Kabupaten Indragiri Hulu, ia bertemu dengan Syekh Muda Muhammad Haris, seorang jamaah Tarekat Naqsyabandiyah Al-Kholidiyah Jalaliyah.

Pertemuan tersebut menjadi awal terbukanya pintu baru dalam kehidupannya.

Dari Syekh Muda Muhammad Haris, ia mulai mengenal Tarekat Naqsyabandiyah Al-Kholidiyah Jalaliyah. Perkenalan tersebut kemudian membawanya bertemu dengan Syekh Muda Ali Munajat di Kota Pekanbaru.
Di sana, ia mengambil baiat dan mulai menapaki perjalanan spiritual melalui jalan tarekat.

Perjalanan itu kemudian berlanjut. Ia diantarkan oleh Syekh Muda Abdul Aziz Pandawa hingga akhirnya dipertemukan dengan Buya DR. Syekh Muhammad Nur Ali Alkholidi, Mursyid/Pimpinan Tarekat Naqsyabandiyah Al-Kholidiyah Jalaliyah.
Pertemuan dengan guru tersebut menjadi salah satu titik penting dalam kehidupannya.

Ia mulai mengikuti suluk, memperdalam ilmu tasawuf, dan menjalani proses pembinaan spiritual di bawah bimbingan gurunya.

Sejak mengenal Tarekat Naqsyabandiyah Al-Kholidiyah Jalaliyah pada tahun 2019, kehidupannya mengalami perubahan yang mendalam.

Jika dahulu ia sibuk mencari arah kehidupan, kini ia mulai menemukan jalan untuk menata kembali dirinya.

Jika dahulu ia bergelut dengan dunia dan segala tantangannya, kini ia belajar memahami bahwa perjuangan terbesar manusia justru berada di dalam dirinya sendiri.

Perjuangan untuk menundukkan ego.
Perjuangan untuk mengendalikan hawa nafsu.
Perjuangan untuk memperbaiki akhlak.
Dan perjuangan untuk terus mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Dari Pena Seorang Wartawan Menuju Jalan Dakwah

Di tengah perjalanan spiritualnya, ada satu dunia yang tetap menjadi bagian penting dari kehidupannya: dunia jurnalistik.

Syekh Muda Salamudin Silaen dikenal sebagai seorang wartawan dan jurnalis. Perjalanan profesionalnya di dunia media dimulai dari media mingguan Dobrak. Ia kemudian berkecimpung di media sastra Harian Koran Riau, di media online Haluan Riau dan juga pernah terlibat dalam aktivitas jurnalistik bersama Majalah Gatra.

Dunia jurnalistik mengajarkannya untuk melihat berbagai sisi kehidupan manusia. Sebagai seorang wartawan, ia terbiasa mencari fakta, mendengarkan cerita, bertemu berbagai kalangan, dan menyampaikan informasi kepada masyarakat.

Namun, setelah menemukan jalan tasawuf, ia mulai melihat bahwa pena juga dapat menjadi sarana pengabdian.

Jika dahulu pena digunakan untuk memberitakan peristiwa, kini pena juga dapat digunakan untuk menyampaikan nilai-nilai kebaikan.

Jika dahulu ia mencari berita dari berbagai penjuru kehidupan, kini ia juga belajar membaca perjalanan batinnya sendiri.

Di sinilah pena bertemu tasawuf.

Jurnalistik dan dakwah menjadi dua jalan yang dapat berjalan berdampingan.

Baginya, dakwah bukan sekadar menyampaikan kata-kata. Dakwah adalah upaya mengajak manusia untuk memperbaiki diri, membersihkan hati, belajar adab dan etika agar dapat mendekatkan hati kepada Allah SWT.

Ia berusaha menjadikan pengalaman hidup sebagai bekal untuk memahami manusia. Sebab, ia sendiri pernah merasakan bagaimana seseorang dapat berada dalam perjalanan yang jauh, mengalami kebingungan, kemudian perlahan menemukan jalan untuk kembali.

Dakwah Melalui Media

Perjalanan Syekh Muda Salamudin Silaen di dunia jurnalistik tidak berhenti ketika ia semakin aktif dalam kegiatan dakwah.
Justru, pengalaman jurnalistiknya menjadi salah satu kekuatan dalam menjalankan amanah tersebut.

Ia tetap aktif menulis dan terlibat dalam kegiatan media. Ia kemudian dipercaya turut mengelola Tazkiyah Media, sebuah media online yang menjadi salah satu sarana dakwah dan penyebaran informasi mengenai kegiatan Tarekat Naqsyabandiyah Al-Kholidiyah Jalaliyah.

Di bawah pembinaan dan amanah yang diberikan oleh para guru, ia menjalankan peran tersebut sebagai bagian dari khidmat.

Baginya, media bukan hanya tempat menyampaikan berita. Media juga dapat menjadi ruang untuk mengajak manusia kepada kebaikan.

Sebuah tulisan dapat menjadi pengingat.
Sebuah berita dapat menjadi inspirasi.
Dan sebuah kalimat yang baik mungkin saja menjadi sebab seseorang menemukan kembali jalan yang selama ini dicarinya.

Karena itu, ia berusaha menjadikan pengalaman panjangnya sebagai wartawan sebagai bekal untuk terus berkhidmat melalui tulisan dan dakwah.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *