RIAU | Tran7riau.com
Karya: DR Syeikh Asripilyadi, M.M
Di tanah pesisir Teluk Pinang, Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau lahirlah seorang anak yang kelak akan membawa nama daerahnya ke kancah nasional.
Ia bernama Musdiansyah — seorang wartawan televisi nasional, penulis yang berjiwa tenang dan penyampai kisah kehidupan dari sudut-sudut negeri yang sering terlupakan.
Sejak kecil, Musdiansyah sudah terbiasa dengan cerita. Ia tumbuh di lingkungan masyarakat yang penuh kisah.
Kisah menarik tentang laut, tentang sawah, tentang hidup yang sederhana namun bermakna. Ia belajar dari para nelayan, petani dan orang tua kampung — bahwa setiap manusia memiliki cerita dan setiap cerita pantas untuk didengar dan diabadikan dalam lembaran khusus.
“Menjadi penulis bagi saya bukan sekadar profesi, tapi panggilan hati,” ucapnya suatu hari, dalam nada yang penuh kesadaran ruhani.
Bagi Musdiansyah, menulis bukanlah pekerjaan biasa. Itu adalah panggilan yang tumbuh dari dalam batin. Ia percaya, kata-kata memiliki roh; tulisan yang lahir dari hati akan hidup jauh lebih lama dari usia penulisnya.
Dari Daerah Menuju Nasional
Langkah Musdiansyah dalam dunia jurnalistik bukanlah jalan yang mudah seperti banyak dipikiran orang. Ia mengawali kariernya dengan semangat belajar dan kerja keras. Dari sebuah kabupaten kecil di Riau, ia menapaki dunia media dengan penuh kesabaran dan tekad kuat, semangat juang yang tinggi.
Perlahan namun pasti, ia menjadi wartawan televisi nasional pertama dari Kabupaten Indragiri Hulu — sebuah capaian bersejarah bagi dunia pers di daerahnya. Melalui liputan-liputan tajam dan narasi berita yang bernas, ia membawa suara masyarakat lokal ke layar kaca nasional bahkan setiap hari menyapa dunia karena hasil karyanya.
Kini, Musdiansyah adalah wartawan dan penulis di TVRI, tinggal di sebuah kota kecil yakni Pematang Reba. Setiap hari menjalani profesi menulis di lembaga penyiaran publik yang menjadi kebanggaan bangsa. Dari layar TVRI itulah, suaranya menembus batas-batas daerah, menyapa penonton dari Sabang hingga Merauke, bahkan menembus ruang dunia digital.
Ia telah menulis dan menyiarkan ratusan berita (“news”) yang menyapa dunia melalui hasil karyanya yang tampil beda.
News dana rtikel yang membahas beragam sisi kehidupan — dari pembangunan daerah, sosial kemasyarakatan, hingga isu-isu kemanusiaan dan kebudayaan yang menginspirasi.
Karya-karyanya bukan sekadar berita, namun pandangan dan solusi. Ia menulis dengan rasa, mengabarkan dengan hati. Setiap liputannya mencerminkan kecintaan pada tanah kelahiran dan kepeduliannya pada kehidupan manusia.
Berita yang Menyentuh Nurani
Bagi Musdiansyah, menjadi wartawan tidak cukup hanya menyampaikan informasi. Ia harus mampu menghadirkan makna.
Karena itu, setiap berita yang ia tulis tidak hanya memaparkan fakta, tetapi juga menggugah kesadaran. Ia menyentuh sisi kemanusiaan dari peristiwa dan berperan aktif dalam mensukseskan informasi fakta ke publik.
Ia percaya, tugas wartawan bukan hanya mencatat peristiwa, tetapi juga menyuarakan yang tak bersuara. Dalam setiap peliputan, ia mencari sisi ruhani. Kisah perjuangan, nilai ketulusan dan bahkan hikmah kehidupan di balik peristiwa.
“Berita memberi informasi cepat, tapi tulisan memberi makna yang lebih dalam,” katanya suatu ketika.
Filosofi itu menjadi panduan hidupnya, justru tuntutan profesi yang berhati nurani. Ia tidak sekadar menulis untuk hari ini, tetapi untuk masa depan. Karena ia tahu, berita hari ini bisa terlupakan, tapi tulisan yang bermakna akan terus hidup dan selalu hidup.
Menulis Sebagai Amanah
Musdiansyah memandang profesinya sebagai amanah ilahi. Pena dan kamera baginya bukan alat semata, melainkan wasilah kebenaran dan amanah.
Ia menulis karena ingin menjaga nurani masyarakat. Ia meliput karena ingin menyalakan cahaya di tengah kegelapan informasi.
Ia sadar, tugas wartawan adalah tugas yang berat. ia harus adil, jujur dan berani. Tapi di balik tantangan itu, ia menemukan ketenangan spiritual. Ia menulis bukan untuk ketenaran, tetapi untuk memberi manfaat bagi semua orang.
Sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.”
Dalam setiap liputannya, ia selalu berdoa agar berita yang disiarkan membawa kebaikan. Sebab baginya, kata adalah doa. Dan setiap doa yang lahir dari hati penulis akan menembus hati pembaca dan penonton.
Menulis Adalah Jalan Ruhani
Menulis bagi Musdiansyah bukan sekadar kerja intelektual, melainkan perjalanan ruhani. Ia menulis dengan zikir dalam hati. Ia memulai setiap liputan dengan niat lillāh, dan mengakhiri dengan rasa syukur.
Ia percaya, bahwa setiap kalimat yang ditulis dengan niat baik akan membawa energi positif bagi yang membacanya. Karena itu, ia berhati-hati dalam memilih kata. Ia tidak ingin tulisannya melukai, tetapi menyembuhkan. Bahkan, setiap hasil karyanyaembawa manfaat.
“Hikmah yang saya rasakan selama menjadi penulis adalah belajar memahami manusia dan kehidupan,” ungkapnya dengan mata yang teduh.
Dalam setiap kisah yang ia tulis, ada refleksi diri. Ia melihat dirinya di setiap tokoh yang diwawancarai, di setiap kisah yang disiarkan. Karena pada hakikatnya, menulis adalah mengenal diri. Dan mengenal diri adalah pintu menuju makrifat.
Profesionalisme dan Pengabdian
Musdiansyah dikenal di kalangan rekan jurnalis sebagai penulis hebat dan profesional.
Ia bekerja dengan disiplin tinggi, menjaga etika jurnalistik, dan selalu mengutamakan akurasi. Ia tidak tergoda sensasi, karena ia tahu, kebenaran tidak perlu dihias dengan kebohongan.
Dalam dunia televisi yang serba cepat, ia tetap mempertahankan ketenangan. Ia menulis dengan ketelitian dan kehati-hatian. Ia menganggap setiap berita adalah tanggung jawab moral.
Tak heran jika banyak rekan kerjanya menjadikannya teladan. Ia bukan hanya menginspirasi dengan hasil liputannya, tapi juga dengan sikapnya yang selalu rendah hati, sabar dan selalu terbuka belajar.
Ia menulis bukan untuk mengejar tepuk tangan, tapi untuk mengabadikan kehidupan. Ia meliput bukan untuk mencari nama, tapi untuk membangun makna.
Menulis Untuk Meninggalkan Jejak
Ketika ditanya apa yang membuatnya terus menulis, ia menjawab pelan. “Saya ingin meninggalkan jejak kebaikan melalui kata-kata.”
Baginya, tulisan adalah warisan yang tidak lekang. Harta bisa sirna, jabatan bisa berlalu, tapi tulisan akan tetap hidup — menembus waktu dan menginspirasi generasi selanjutnya.
Ia percaya, berita yang disiarkan hari ini adalah bagian dari sejarah esok. Karena itu, setiap kali menulis, ia membayangkan bagaimana generasi mendatang akan membaca dan belajar dari tulisannya.
Ia ingin agar anak-anak muda di Indragiri Hulu tahu, bahwa dari tanah mereka pun lahir wartawan besar. Bahwa tak perlu tinggal di ibu kota untuk bersuara bagi negeri. Cukup dengan semangat, kerja keras dan ketulusan.
Inspirasi Bagi Generasi Penulis Baru
Sebagai penulis yang telah menghasilkan ratusan karya jurnalistik dan berita nasional, Musdiansyah kini menjadi panutan bagi generasi muda.
Ia sering diundang berbicara dalam dalam berbagai diskusi. Diskusi jurnalistik dan kegiatan literasi daerah. Dalam setiap kesempatan, ia selalu mengingatkan pentingnya jadi penulis yang berkarakter.
“Menulis bukan sekadar pekerjaan tangan, tapi pekerjaan hati.
Tulis dengan niat baik, karena tulisanmu akan menjadi saksi di hadapan Allah.”
Ia mengajak anak-anak muda untuk berani menulis kisah sendiri, bukan sekadar meniru. Ia ingin mereka sadar, bahwa setiap daerah memiliki cerita berharga, dan setiap penulis memiliki peran penting dalam menjaga sejarah bangsanya.
Refleksi: Menyapa Dunia Dengan Kata
Kini, di tengah perubahan zaman, Musdiansyah tetap teguh memegang prinsip. Ia tidak terhanyut dalam hiruk-pikuk popularitas, tapi memilih berjalan di jalan sunyi, jalan keikhlasan yang selalu menyapa hari.
Ia terus menulis berita-berita dari bumi Riau, dari kampung halaman, dari kehidupan nyata rakyat kecil, lalu menyapanya kepada dunia melalui layar TVRI.
Dari ruang rumah pribadi hingga medan liputan, dari pedalaman hingga kota besar, ia membawa pesan yang sama, bahwa setiap kisah manusia pantas dihargai. Karena, berkarya tidak semudah apa yang dipikirkan orang lain. Berkarya dengan ilmu, berkarya dengan optimalisasi.
Tulisan dan liputan Musdiansyah adalah cermin perjalanan spiritual seorang jurnalis sejati — yang menjadikan profesinya bukan sekadar ladang nafkah, tapi juga ladang pahala.
Penutup: Pena Sebagai Cahaya
Musdiansyah telah membuktikan bahwa menulis adalah cara mulia untuk mengabdi kepada kehidupan.
Ia menyalakan pena bukan untuk ketenaran, tapi untuk menerangi jalan banyak orang. Ia mengangkat kisah manusia bukan untuk sensasi, tapi untuk membangkitkan kesadaran.
Dari Teluk Pinang ke layar dunia, dari liputan sederhana hingga tayangan nasional, ia terus menulis — karena bagi Musdiansyah, kata adalah cahaya, dan menulis adalah ibadah.
Ia percaya. Selama pena digerakkan oleh hati yang jujur, tulisan akan selalu sampai pada hati yang membutuhkan.
Dan selama berita disampaikan dengan niat suci, ia akan menjadi amal yang hidup selamanya.
Indragiri Hulu, 2025
Karya: DR Syeikh Asripilyadi, M.M
(Penulis, Mursyid, dan Guru Ruhani Penulis Indonesia)
AR – BI






